How I get to Bali - Introduction (BALI PART 1)

Hi you. Yes, you who are jumping into my blog right now. How u doing

Makasih udah mampir ke blog ini. Semoga kamu selalu dalam keadaan sehat, dan dimudahkan segala urusannya ya.. Untuk kamu yang mungkin lagi dalam persiapan untuk pindah ke Bali, atau punya keinginan untuk tinggal di Bali, Aku ingin bagi pengalaman aku tentang living as locals di Bali selama 2 tahun 2 bulan kemarin. Semoga artikel ini bermanfaat ya untuk kalian.

Sebelumnya, Gapapa kan kucerita tentang gimana pengalaman aku bisa pindah ke Bali? Sekalian throwback.


-Having a glass of virgin mojito at La- Laguna- 2016-


Jadi, di tahun 2013 sebenarnya aku sudah hampir magang di Bali. I’ve never been to Bali before, tapi aku ingin langsung ngerasain tinggal beberapa lama di Bali, karena jiwa petualang, dan pandangan positif yang begitu kuat tentang Bali. Dalam karir di dunia Arsitektur atau Interior aku punya pandangan kalau Bali akan jadi tempat magang yang menunjang pengalamanku sebagai mahasiswa Arsitektur, karena sebagai destinasi wisata Indonesia, Aku yakin banyak pembangunan or at least renovation project yang ga akan pernah mati. Terus disana juga multicultural, termasuk banyak foreigner yang bukan cuma turis, tapi employee. Jadi, aku rasa selain bisa kerja sama sesama orang Indonesia, aku juga bisa kerja sama foreigner dan sekalian ningkatin Bahasa Inggrisku yang masih tergolong belum fluent. Tapi karena waktu itu kantor yang di Bali baru izinin aku tanggal 9 januari aku mulai magang (karena kantornya libur panjang), sedangkan tanggal 31 aku udah masuk kuliah lagi, Jadi ya mepet banget.

Lanjut, Sekitar tahun awal 2015 begitu lulus S1, aku pun berkeinginan kuat buat pindah ke sana, bukan hanya 1-2 bulan, tapi ya untuk kerja 1-2 tahun. Di tahun 2015, aku apply beberapa pekerjaan sebagai Junior Arsitek / Interior desainer di Jakarta, dan 1 lagi di Bali, di perusahaan Retail. Atas idzin Allah SWT, He made my dream come true. Perusahaan yang di Bali tersebut ngundang interview. Mungkin memang udah jalannya, perusahaan yang di Bali ini, aku diterima dengan proses yang mudah dan ga berbelit. Kufikir akan susah keterima, secara waktu itu posisiku masih di Jakarta, Dan kalo mau diundang Interview agak susah karena pasti mesti ke Bali dulu. Tapi nyatanya engga. Perusahaan tempat ku kerja kemarin itu punya prosedur interview menggunakan aplikasi Skype di awal proses perekrutan untuk para calon pegawai yang asalnya dari luar Bali, Jadilah aku ga perlu repot-repot ke Bali. Setelah 2 kali interview via skype, Untuk interview tahap akhir sama usernya, Alhamdulillahnya lagi, kebetulan usernya lagi ada jadwal ke Jakarta karena liburan Nyepi sekaligus ketemu calon kontraktor yang diambil dari Jakarta untuk proyek Renovasi toko di Lombok. Jadilah interview terakhir, aku ga perlu ke Bali, karena supervisornya sendiri yang langsung bikin janji meeting sama aku untuk interview (waktu itu di Kokas tempatnya) J.

“It’s not us who choose Bali as a destination. Otherwise, It’s Bali. If Bali chooses  you, You will come no matter what.” -Tyra Bank. ANTM cycle 20.

Pernah denger kata-kata itu ga? Itu kata-kata yang diucapin Tyra Bank di ANTM 2015 cycle 20 waktu para kontestannya dapat kesempatan untuk pemotretan di Bali. Terdengar magical dan keren sih, tapi aku lebih milih percaya bahwa Tuhan yang bawa aku tinggal di Bali. Hehe
Intinya setelah 1 minggu interview tahap akhir di Kokas itu, Aku dapet email dari HRDnya bahwa aku keterima di perusahaan tersebut dan hanya punya waktu 2 minggu untuk preparation moving in.





Adventure is Out There!!” Russel – up!


at that moment, I was an off-job person, So I didn’t have sufficient money to pay my first-month allowance there. I didn’t have any family who lives there. I only know I have 1 male friend who lives there. So here I am just with my own self, hardly thinking how could I get there within 2 weeks.

Ortuku awalnya cukup surprised juga dengan keputusanku. Mamaku sempet ngedumel awalnya, dengan bilang kenapa sih ga kerja di Jakarta aja far? Jauh banget kamu ke Bali. Tapi, berkat dukungan dan pengertian mereka yang faham bahwa anaknya ini adalah bocah petualang, dan pernah ditinggal 3 tahun sekolah di Sulawesi juga, Jadi orang tua percaya aja aku bisa survive. Seperti yang dibilang mamaku, farah tuh di taruh diujung dunia mana aja ya bakal bertahan hidup, karena aku survivor.
Seusai kasih pengumuman aku diterima, HRD nya sedikit skeptis aku akan susah bergaul disana mungkin karena aku berjilbap dan takut aku bakal mengalami cultural shock. HRDnya bebrapa kali mengulang pertanyaan:

“Farah, tapi kamu ga apa-apa kan kalo kamu sendiri yang pake jilbap di kantor ini..?”
Aku jawab “Iya mbak, ga apa-apa kok” karena memang, I’ts not a problem for me. 

Supervisorku yang kebetulan agamanya katolik pun demikian, berkali kali memberitahukan downside-nya tinggal di bali yang dikaitkan dengan agama dan penampilanku yang berjilbap. She said:

“Just to let you know ya farah, Bali is different than Jakarta. Disini kehidupannya jauh lebih bebas dan terbuka. Populasi LGBT banyak. I just don’t want you to be shocked right after you come here and because of that issue you decide to go back to Jakarta.”

And I was like.. “Ooh gitu, thanks for the information at least I can be mentally prepared. I'm pretty sure, that kind of thing never stop my decision to move into Bali.”

7 hari sebelum berangkat, Persiapan masih belum banyak. Paling cuma urus sim C aja untuk persiapan kalau-kalau aku bakal butuh itu di Bali untuk sewa motor. Sisanya nihil. Paling ketemu temen-temen deket untuk adain farewell kecil-kecilan. Tinggal di kosan mana di Bali pun masih belum tau.

4 hari sebelum berangkat, kenalan ibuku yang tinggal di Bali ternyata kebetulan lagi di Jakarta karena ada urusan. Kami sempetkan ketemuan dan dengan berbaik hati, kenalannya ibuku itu memperkenankan aku tinggal beberapa hari dulu di rumahnya sampe aku dapet kosan. What a relieve.

2 hari sebelum berangkat, Alhamdulillah tanpa disangka, aku dapet rejeki. Long Story short, terkumpulah uang hampir 5 juta rupiah yang akhirnya jadi bekal ku untuk survive selama bulan pertama disana. Intinya, kalau memang udah jalannya, Semuanya pasti dimudahkan.


“If it’s meant to be, The universe will help you to find the way”


Finally, 25 September 2016, atas izin Allah, aku akhirnya bisa hirup udara bersih Bali, sembari melihat indahnya langit Bali yang birunya bersaturasi tinggi dibanding biru langitnya Jakarta.  Aku update status di FB :  


“Farah is moving in to Bali”


-Me having sunset at Bluepoint beach 2017-

Komen fb ku langsung banjir. Dan ternyata berkat update-an itu, 1 orang temenku yang selama ini aku ga pernah tau kabarnya langsung dm dan kabarin kalo ternyata dia tinggal di Bali. Begitupun 1 temenku yang lain. Turn out, aku ga sendiri-sendiri amat di Bali. Lagi-lagi, what a relieve. Alhamdulillah.




And the story began....

Comments

Latest Posts