Tipikal Orang-orang di Bali (BALI PART 2)
BALI PART 2. (APPEARANCE
& GENERAL CHARACTER)
Hello There! di entry yang
sekarang aku bakal cerita tentang orang-orang di Bali dan juga karakter umum mereka.
To be noted, sebelumnya, aku ga akan mempersingkat cerita, karena aku
pingin kalian bisa dapet cerita yang sejelas-jelasnya dari pengalamanku. Aku ga
akan menuliskan baik atau buruknya. Karena itu relatif banget. Buat aku baik
itu ya A bisa jadi baik buat kamu B. Jadi kalian sendiri aja yang menilai
sebagai bahan pertimbangan kalian yang berniat pindah Bali.
(Ubud Girls by Nelson Lai on Google)
Oia aku pengen
menekankan 2 hal sebelum kita lanjut..
- Orang-orang di Bali yang kumaksud adalah penduduk asli
Bali (hindu) dan juga pendatang yang sudah menetap di Bali yaa
- Tolong jangan menjadikan artikel ini sebagai patokan
ya. Ini hanya gambaran umum berdasarkan pengamatan dan interaksi sosial
aku selama di Bali. Jadi gak semua orang yang tinggal di Bali seperti yang
aku ceritakan.
Kalau dari appearance,
Entah karena tinggal di pesisir atau apa, pakaian orang-orang yang tinggal di
Bali ini bener-bener kasual alias selau. Kaus, celana pendek, kain bali (biasa
dipake perempuan kalau naik motor untuk nutupin paha) dan sendal jepit
(rata-rata yang ada haknya sedikit). Yang paling Bali banget itu ya SENDAL
JEPIT. Bahkan sampe khasnya sandal jepit disini temen-temenku yang sesama perantau
sempet guyon sambil menghipotesa;
Yepp. Setuju banget. Di Bali aku bebas pake sendal jepit kemana aja termasuk ke Mall tanpa dilirik-lirik orang. Terus dia lanjut cerita;
Eits tapi jangan dipikir sandal jepit yang dipake orang lokal itu sandal Swallows ya. PLEASE. Mereka orang lokal biasanya pakai merk yang oke mulai dari Poppits, Reef, Ripcurl, Ipanema, Havaianas, Fipper (nah lho, gatau kan? ) Dan sendal jepit disini jangan dipikir berarti gembel ya, karena mungkin di tempat2 besar seperti di jakarta stereotype org yang pakai sendal jepit ke Mall berarti dari menengah ke bawah. Itu salah besar disini. Sendal jepit disini pure menunjukkan kenyamanan dan kesederhanaan orang-orang di sini dalam berpakaian. #thumbsup
“Disini tuh far ngebedain turis domestik sama orang lokal tuh
gampang. Di Mall, Kalo pakaiannya kekinian or rempong, pake
sepatu, makeup tebel dah itu pasti turis. Tapi kalo pake sandal jepit, pakai
kaos celana pendek doang, nah itu pasti orang lokal.”
Yepp. Setuju banget. Di Bali aku bebas pake sendal jepit kemana aja termasuk ke Mall tanpa dilirik-lirik orang. Terus dia lanjut cerita;
"Pernah pas gw balik ke Jkt, karena udah kebiasaan pake sendal jepit kalo ke Beachwalk (Mall di Bali), gw ke Sency juga pake sendal. Dan lo tau apa yg terjadi?Gw ga dirunguin sama mba-mba Spg waktu gw masuk ke outlet-outlet fashion mo liat-liat baju dipikir gw gembel kali ya ga punya duit buat beli baju. hahaha. Terus juga gw pernah diliatin dr ujung kepala ampe kaki sama orang-orang. Hahaha"
Eits tapi jangan dipikir sandal jepit yang dipake orang lokal itu sandal Swallows ya. PLEASE. Mereka orang lokal biasanya pakai merk yang oke mulai dari Poppits, Reef, Ripcurl, Ipanema, Havaianas, Fipper (nah lho, gatau kan? ) Dan sendal jepit disini jangan dipikir berarti gembel ya, karena mungkin di tempat2 besar seperti di jakarta stereotype org yang pakai sendal jepit ke Mall berarti dari menengah ke bawah. Itu salah besar disini. Sendal jepit disini pure menunjukkan kenyamanan dan kesederhanaan orang-orang di sini dalam berpakaian. #thumbsup
(Source : Pinterest)
Untuk yang satu Ini aku
sangat apresiasi. Orang-orang disini ga takut kulit mereka menjadi tanned.
Kebanyakan temanku yang perempuan ga peduli sama warna kulit mereka. Mereka ga
pake skincare yang ada bahan pemutihnya. Most of them biasa aja kalau kulitnya being tanned, dan ga takut matahari kalo pake baju pendek. Ga ada yang pake payung
juga kalo pas matahari lagi panas-panasnya (hehe) They are, who they are. Apa adanya.
Ini cukup merubah stereotype ku bahwa cantik itu ga harus mengikuti standar buatan yang berlaku (putih). Dulu sempet punya stereotype orang yang putih itu lebih
enak dipandang, dan semenjak di Bali, well aku malah menganggap semua wanita
itu cantik selama dia percaya diri terlepas warna kulitnya apa. And yeah,
tanned skin’s kinda cool.
Dimanapun kamu berada di
luar ruangan, terutama ketika naik motor, Kacamata hitam adalah hal yang tak boleh dilupakan. Bukan.. bukan untuk
gaya-gayaan atau karena belum pake makeup ya. Lebih reasonablenya karena disini ga ada bangunan tinggi
lebih dari 4 lantai, makanya cahaya matahari bakal terasa lebih silau karena ga
ada shading dari bangunan tinggi. Apalagi karena langit Bali begitu bersih ga
ada polusi makanya birunya jadi terlihat bersaturasi tinggi dan kontras. Ini
bakal ngaruh juga ke tingkat kenyamanan kita dalam melihat. Jadi pakai kaca
mata hitam lebih membuat mata nyaman di luar ruangan terutama pas berkendara.
Dan absolutely jadi lebih kece juga sih.
Beberapa kali melakukan
nomaden di beberapa wilayah Indonesia, Di Bali ini adalah satu satunya tempat
tinggal di mana orang-orangnya aware dengan bentuk badan. Wabil khusus yang
laki laki. Buatku, Ini cukup noticable banget perbedaannya. Most of them, tinggi-tinggi, mereka juga cukup muscle di bagian arm and back. (Ini ga semua ya, tapi
kebanyakan). Kenalanku yang cowo mereka udah sangat biasa ke gym. Kalau
yang perempuan sih aku ga heran, mungkin dari kecil mereka sering nari di
Banjar setempat, makanya bentuk badannya bisa dibilang cukup molek terutama
transisi bagian punggung ke pinggul. Ala-ala penari gitu. Aku suka perhatiin
pas mereka sembahyang di pura depan rumah mereka pagi hari.
Ohya, orang-orang disini
juga suka olah raga, Ga hanya anak mudanya, tapi juga yang sudah punya anak
bahkan cucu. Ini terlihat dari intensitas dan variasi orang berolah raga di
lapangan Renon, Puputan setiap sabtu dan minggu pagi. Ruameenya naudzubillah.
Mereka juga selalu bawa anjing kesayangan mereka untuk jogging bareng. Hal lain juga terlihat dari jenis olah raga yang ada di
lapangan itu. Bukan cuma Senam or Zumba, tapi juga ada Yoga.
(Source : Google Gif)
Bapak bapak dan ibu ibunya mostly aktif ikut Yoga. Di lapangan renon yang sebesar itu, spot komunitas yoganya bukan cuma 1 aja, tapi 4-5 spot dengan bermacam-macam jenis Yoga. Dan itu gratis, ga pake bayar. Cool right?? Kalo ga percaya, coba kalo ke Bali pas weekend main ke lapangan Renon.
(Source : Google Gif)
Bapak bapak dan ibu ibunya mostly aktif ikut Yoga. Di lapangan renon yang sebesar itu, spot komunitas yoganya bukan cuma 1 aja, tapi 4-5 spot dengan bermacam-macam jenis Yoga. Dan itu gratis, ga pake bayar. Cool right?? Kalo ga percaya, coba kalo ke Bali pas weekend main ke lapangan Renon.
-----------Oke sekarang kita move
on ke Karakter orang-orang di Bali yaa-----------------------
Open
Orang-orang disini
cenderung terbuka (open) dalam
berinteraksi sama sesama. Mulai dari kepribadiannya seperti apa, kondisinya
seperti apa, kebiasaannya seperti apa sampe masalah hidupnya seperti apa.
Terbuka ke siapa? Cenderung ke siapapapun. Ya, ini juga yang menurutku cukup noticeable dibanding orang-orang yang
aku temui di daerah lain. Kenalanku disini, pertama kali waktu interview di tempat kerjanya sekarang, dia kenalan sama temen baru.
Pulang dari interview dia
cerita ke aku dengan speechless-nya
mengatakan kalau dia speechless sama
orang tersebut. Dia bilang ;
Aku Cuma senyum aja. Ya.. memang hampir semua kenalanku
disini aku tau kisah hidupnya seperti apa.
“Masa ya, gw baru aja ketemu sama orang pertama
kali hari ini, masa dia udah cerita masalah pribadinya, dia bilang dia mau
nikahlah tapi duitnya belum kekumpul terus dia pusing. Terus gw bingung juga
mau nanggepinnya gimana”
(Source
: Pinterest)
II,
UU (gue gue, elo elo)
Orang-orang disini,
kalau boleh diperjelas agak cuek tentang urusan orang lain. Dalam artian
positif, mereka percaya, masing-masing punya cara fikir, pandangan hidup,
orientasi hidup, dan latar belakang sendiri mengapa seseorang mengambil
keputusan dalam berperilaku sesuatu. Norma yang dijunjung disini adalah menghargai apapun itu pilihan hidup orang
lain, selama tidak mengganggu orang lain. Contohnya waktu pertama kali ngekos,
aku sedikit kaget karena ga ada peraturan apapun dari bapak kos, yang tinggal harus keluarga atau boleh bukan keluarga kah, mesti perempuan semua atau cowo semua kah, ga ada jam malam dll, intinya ga ada larangan apapun. Kenapa kaget? Karena di beberapa tempat yang
pernah kudiami sebelum di Bali nilai masyarakat yang dianut berbeda. Di tempat
ku dulu, nilai agama sangat dijunjung, makanya kalo ada pasangan yang ketahuan
sekamar tapi tidak ada hubungan resmi, Bisa abis dijadiin ayam geprek. Hehe.
Sampe sekarang, aku ga tau pasangan yang tinggal di samping kamarku itu apakah suami istri atau kakak adikah, atau kakak adik ketemu gede kah hehe. Dan sebaliknya, mereka pun ga pernah tanya aku tinggal sama siapa, dan ada hubungan apa sama aku. (Aku tinggal sama
adik dan teman kosanku yang cewe semua).
Yang paling bikin shocked itu adalah, waktu teman kantorku
yang bernama mba “Bunga” ketika kuamati secara signifikan perutnya membesar dari minggu ke minggu.Aku coba untuk cari tahu ke
orang yang lebih dekat ke si mba bunga yang akrab sama aku (atasannya mba
bunga) waktu itu ga enak nanya langsung karena yang ku tau dia belum merit. Turn out, ternyata hamil, dan
sudah memasuki bulan ke 3. Satu kantor udah tau dan aku amazing dengan reaksi orang orang sekitar yang biasa aja termasuk
si mba bunganya sendiri. Like nothing
“Big” happened. Orang orang sekitar malah dengan santai menyapa;
dan Mba Bunga pun santai menjawab;
“Eh
Mba Bunga udah berapa bulan? Kapan nikahnya? Cowonya dimana sekarang?”
dan Mba Bunga pun santai menjawab;
“Oh iya udah tiga bulan nih.. cowoku masih
tugas pelayaran, Nanti nikahan aku dateng yaa, doain sehat2 ya”.
Ternyata aku baru tau,
bagi orang lokal wabil khusus penduduk Bali asli yang beragama hindu, hamil
sebelum menikah itu bukan hal yang “luar biasa”, justru mereka senang karena
mereka diberi keturunan walau belum ada ikatan pernikahan. No problem at all. Bagi orang Hindu, keturunan itu sangat diharapkan dan
dianggap dapat menjadi pewaris leluhur. Waktu itu aku mikir, Wah ini sih kalo ada
kasus begini di Jakarta sepertinya orang seperti Mba Bunga akan resign untuk menghilangkan diri dari peradaban. Hehe
(Source : Pinterest)
(Source : Pinterest)
Hal Positifnya menurutku
sih, Malah aku merasa diterima 100% diriku apa adanya. Aku yang satu-satunya
berjilbap di kantorku, Awalnya kufikir bakal susah dapet temen dan bergaul
karena mungkin stereotype mereka
tentang orang berjilbap yang terdengar dari media yang katanya beginilah
begitulah. Ternyata enggak sama sekali, karena konsep I I, UU itu tadi, They embrace the differences and treat
people based on attitude. Bukan
dari agamanya, Atribut yang dipakai atau bahkan orientasi seksualnya.
Di Bali, Apapun yang terjadi
kepada setiap individu, mau sesuai dengan nilai dan prinsip hidup kita atau
tidak ya selama itu tidak mengusik hidup orang lain ya ga masalah. Dia dia, Aku
aku. Setiap orang di Bali termasuk pendatang (local
ataupun asing) punya nilai hidup dan pandangan hidup yang berbeda-beda, Jadi
kalau mau egois menghabiskan waktu untuk men-judge orang berdasarkan nilai dan cara hidup kita ga akan ada
habisnya capek sendiri. karena In the end
of the day yang paling benar menurut kita ya cara dan nilai hidup kita
sendiri.
Adem Ayem
Ini sih berdasarkan research kecil-kecilan aja ya dari
kebanyakan teman-temanku, Karena konsep II UU itu juga kali ya, orang-orang
disini lebih less tempramental.
Mungkin karena sudah terbiasa menerima perbedaan yang ada. Paling simpelnya ga
pernah terpancing isu macem-macem di luar sana seputar politik lah apa lah
ini lah itulah, Dan gembar gembor di sosmed. Orang-orang sini ga ada yang saling menyerang atau memprovokasi setiap kali ada isu panas
dari Media. Bener-bener adem ayem. Kerukunan masyarakatnya patut aku acungi
jempol. Ga ada tauran, Ga ada konflik antar Agama, Antar suku, Dan antar
pendukung partai. Semuanya selauu.
Oiya orang sini percaya Karma. Jadi, Kalaupun memang ada yang menghina, menyakiti hati, mereka lebih
memilih untuk tidak gampang balik menyakiti karena
percaya, karma itu berlaku.
(Source
: Pinterest)
Sederhana
Dari pengamatan dan
penilaianku, Tujuan hidup mereka yang tingg di Bali itu lebih sederhana dibanding
mereka yang tinggal di wilayah Urban city seperti Jakarta. Cara pandang
hidupnya juga berbeda. Kalau bagi temen-temenku yang memang orang Bali asli,
Kebahagiaan itu adalah ketika kamu bisa berkumpul sama keluarga, temen, pacar, have a quality time bareng, party bareng, pokonya segala sesuatu
yang menyenangkan. Itu sudah lebih dari membahagiakan untuk mereka. Uang
bukanlah patokan utama mereka hidup. Karena memang jujur, most of them memang punya banyak “aset” alias berkecukupan. Jadi, Mereka kerja ya tujuannya untuk mengisi waktu, Ketemu banyak
temen-temen, cari kesibukan, Cari sedikit tambahan buat jajan, Bukan
menjadi segala sesuatu yang mesti di ngoyo-in. Ga begitu memikirkan tentang jabatan. Big
Nope.
Agak beda sama mereka
yang di Bali sebagai pendatang. Kebanyakan mereka yang memilih hidup disini
adalah mereka yang sudah lelah dengan kehidupan Ibu kota yang keras, penuh
persaingan dan drama kemacetannya. Jadi mereka sudah punya
pandangan hidup yang bergeser tentang kebahagiaan. Bahagia itu, ya karena Bali
offers no macet, Penerimaan kamu 100 persen dirimu, Keamanannya, Adem ayem, Termasuk
full of beautiful places for refreshing.
Jelas sudah bukan mengejar jenjang karir yang lebih baik apalagi gaji. Lagipula UMR disini jauh lebih kecil dibanding Jakarta. Dan orientasi hidup seperti itu terlihat jelas dari ritme kerja orang-orang disini yang lebih slow, kurang suka persaingan, dan
anti lembur-lembur club.
Ringkasnya, Bali itu
cocok untuk mereka yang mengincar kehidupan yang nyaman tenteram damai yang menjadikan uang bukan orientasi utamanya. dalam artian lain financially secured. Cocok untuk mereka yang kurang tertarik sama tantangan. Agak susah untuk mereka yang masih ngejar gaji besar dan jenjang karir di kehidupan perkantoran.
(Source : Pinterest)
Jadi gimana? Udah siap untuk ke Bali?
Ohya kalau kalian mau
nanya-nanya pribadi silakan drop any comment!
Hope this article
helpfull ya..
--C U in Bali Part 3--











Comments
Post a Comment