Tentang transportasi, akomodasi(BALI PART 3)

Petualanganku bersama Mas Didit

“You’ve got a Driver!”
Yes!! ucapku spontan ketika melihat notifikasi salah satu aplikasi ojek online di HP.

“Ok pak”
Dari aplikasi yang sama muncul 1 new message.
Pak?? Seumur hidup, Aku ga pernah dipanggil Pak sama Stranger. Paling banter Bu, atau Bu haji karena aku berjilbap. Namaku Cowok banget kah?

Jadi, Pagi itu, Aku yang baru 2 hari tiba di Bali sedang siap-siap untuk mencari tempat tinggal tetap (kosan) setelah 3 hari aku diizinkan tinggal di rumah kenalan Ibuku. Sebelum ke Bali, aku udah melakukan banyak research tentang transportasi umum di Bali. Dari semua blog yang aku kunjungi, 90% diantaranya menyimpulkan bahwa hidup di Bali akan susah kalau kita ga punya kendaraan pribadi, Khususnya motor. Sempet cemas waktu itu karena harga sewa motor disini tinggi. Range harganya 600k ke atas perbulan. Why? Karena mungkin jenis motor yang disewain disini hampir 90 persen semua matic. Di Bali hampir ga ada orang yang naik motor bebek atau kopling. Alasan lain kenapa harganya bisa mahal, Mungkin karena transportasi pribadi yang paling affordable dan efektif untuk tinggal di Bali ya motor, makanya demand-nya tinggi. 

But in the end, Ternyata stereotype bahwa tinggal di Bali akan lebih baik jika punya kendaraan pribadi itu dapat terbantahkan dengan gampang. Karena disini ojek online udah banyak jumlahnya..Yaa mungkin waktu research 2 tahun lalu, Memang blog yang kuvisit dari tahun lawas-lawas kali ya, (tahun 2015 ke bawah) Yang mana ojek online waktu itu masih belum ada.


Mas Didit : “Permisi, Mbak Farah ya?”
Bunyi Mesin motor akhirnya berhenti tepat di depanku setelah 5 menit lalu posisinya 10 meter dariku.

Aku  : “Iya, Mas Didit ya?”

Mas Didit : “Iya mbak, hahaha maaf ya mbak saya pikir cowok. Saya lihat kok ga ada cowok, adanya mbak”

Aku  : “Haha, iya ga papa mas” Apa-apa sih sebenernya sambil senyum maksa.

Mas Didit : “Mbak, mau pake helm tah?”

Aku  : “Hah? Terus masa mas doang yang pake saya ga pake”

Mas Didit : “Lho, mbaknya kan berjilbap.. gapapa kok mbak kalo ga pake helm”

Ini abang ojek rada-rada sepertinya. Setelah salah manggil aku Pak karena katanya namaku terdengar maskulin, dia masih aja kasih kejutan aneh dengan menyarankan penumpangnya untuk ga apa-apa kalau ga pake Helm. 23 tahun aku hidup, Aku baru tau kalo jilbap dan helm walau jenis material, sifat mekanik, sifat kimia nya jauh berbeda tapi kalau di Bali punya fungsi yang sama. Sama-sama bisa melindungi kepala dari benturan. Superb.


Well, this is the first thing you should know. Orang berjilbap boleh ga pake helm kalo naik motor. Lebih tepatnya sih semua yang memakai atribut agama atau berbusana adat (seperti kebaya dan kamben, peci, udeng, jilbap dll) diberikan dispensasi untuk tidak memakai Helm saat naik motor (Tidak untuk dicoba ya).. Ini semua dilatar belakangi oleh penduduk asli Bali yang ketika beribadah selalu menggunakan Udeng (laki-laki) dan yang perempuan biasanya berkebaya dengan membawa nampan isi canang di atas kepalanya. Ini akan menyulitkan kalau mereka berkendara naik motor dan mesti pakai helm. Jadinya pemerintah setempat memberikan dispensasi tersebut dengan term and condition tertentu pastinya. http://bali.tribunnews.com/2017/10/30/perhatian-polda-bali-beri-dispensasi-pengendara-berpakaian-adat-dalam-radius-ini.


Dengan pertimbangan aku masih belum nikah, jadi aku putuskan untuk mengamankan kepalaku dengan helm yang ditawarin Mas Didit. Daripada daripada kan. Sembari nunggu aku memakai Helm, Mas Didit fokus mengamati GPS di hp nya untuk mempelajari lokasi yang di tuju.

Mas Didit : “Mbak, maaf ini lokasi gang tujuan nya di sebelah utaranya pom bensin ya mbak?”

Aku  :“Maaf, gimana mas?”

Mas Didit : “Ini lokasinya di utaranya pom bensin ya?”

Aku  : “Waduh saya juga kurang tau kalo utara atau enggaknya, kalau di mapnya lokasi gangnya disebelah kirinya pom bensin pak kalo dari seberangnya”

Mas Didit : “Iya itu utara atau baratnya mbak?”

Aku  : “……..”


Yap. Kamu yang berniat ke Bali, mesti siap-siap untuk Berpedoman sama Arah Matahari ya. Karena untuk menunjuk jalan disini ga bisa cuma sekedar bilang “Iya lurus, terus nanti belok kiri terus belok ke kanan terus seberangnya ke kiri sedikit bla bla bla..” Trust me it won’t work. Orang-orang di sini selalu menggunakan Arah matahari sebagai patokan.


Sembari buka-buka google untuk lihat informasi detail mengenai kosan yang bakal kusambangi, Mas Didit mulai starter mesin motornya. Itu pertama kalinya aku naik motor di Bali. Yuhu. Semilir angin Bali menerpa jilbapku sampai teplek. Aku biarin, ga ngedumel marahin anginnya, Soalnya dia segar dan rasanya lebih bersih ga banyak polusi seperti angin di kota ku kemarin. Mataku ga berhenti-berhentinya memandangi sepanjang jalanan yang tampak festive pada Bulan September waktu itu. Gimana engga, di tiap 10 meter aku melihat janur kuning yang bentuknya lebih kece daripada janur kuning di acara nikahan di Jawa. “Keren ih janur kuningnya”. Kataku dalam hati sambil norak. Mas Didit mencoba membuka percakapan.

Mas Didit : “Jawanya ndi, peyan mbak?”

Aku  : “Hah? Maaf saya ga ngerti mas ngomong apa”

Mas Didit : “Oalah tak pikir sampeyan jawa, soalnya berjilbap”
Lha. Dari mana hubungannya pake jilbap berarti jawa. Timpalku dalam hati.

Aku  : “Hehe bukan mas, saya dari Bekasi”

Mas Didit : “Oalah, iya disini kan yang berjilbap rata-rata dari jawa semua mbak, makanya tak coba ajak sampeyan ngomong bahasa jowo.  Udah berapa lama di Bali mba?”

Mas Didit : “Hmm Lumayan lama mas, 2 hari”

Mas Didit terkekeh. Sesaat kemudian dia dengan berbaik hati tiba-tiba beralih peran dari abang ojek menjadi tourguide dadakan. Dengan ramah dia menjelaskan tentang Bali dan yang aku belum tau. Termasuk janur kuning yang kupikir adalah petanda saat itu adalah musim kawin di Bali. Salah pemirsa. Ternyata itu namanya Penjor. Bentuknya mirip janur kuning tapi lebih keren. Dipasang sebagai tradisi budaya setempat pada saat hari raya Galungan. Iya. Ternyata memang waktu aku baru sampai di Bali, penduduk setempat baru selesai merayakan Galungan.  

Kurang lebih 12 menit kami berbincang di sepanjang jalan, Motor kami pun akhirnya berhenti salah satu gang yang penuh dengan bangunan serupa kos kosan.

Mas Didit : “Udah sampe mbak”

Wah. Cepet banget ya ternyata (ngomong dalem hati). Jaraknya 5 km padahal. Tapi Cuma makan waktu 12 menit.


 Yap. The greatest thing Bali will offer you is No Macet Drama. Dibanding di Jabodetabek, Perjalanan disini terasa lebih dekat karena jalanan yang jauh lebih lancar sehingga makan waktu yang sedikit. Kalau bisa dibilang, jauh dijarak dekat di waktu. Kalau dibandingin sama Jabodetabek, Dekat di Jarak, Jauh di waktu. Jarak yang ditempuh dari Nusa Dua ke Singaraja (Ujung Bali Selatan ke Ujung Bali Utara) bisa makan waktu 4 jam maksimal dengan kecepatan standarlah 60-70km/jam menggunakan mobil pribadi. Sedangkan sebagai orang Sub-urban (Bekaseh), perjalanan dengan waktu yang sama, ditempuh dari Depok ke Bekasi dengan naik bis yang jaraknya kurang lebih sepertiga jarak Bali Selatan ke Bali Utara. How Ridiculous.

Macet sesekali sih pasti ada, tapi ga separah macet di Jabodetabek. Macet disini paling sering karena ada penutupan jalan saat ada upacara adat penduduk setempat. Yep. Itu adalah hal kurang kusuka di sini, Kalau ada upacara dikit pasti langsung tutup jalan. Dan jarang ada pemberitahuan sebelumnya.



Setelah aku turun dari motor, Karena kufikir aku ga akan makan waktu lama, Makanya aku inisiatif untuk menyuruh Mas Didit nungguin aku.

Aku  : “Mas, ga apa-apa kan kalo mas nunggu sebentar. Saya cuma mau ngecek sebentar aja kamar yang kosongnya. Ga lama kok.”

Mas Didit : “Iya ga apa-apa kok mbak. Saya tungguin depan kosannya aja mbak. Yang mana kosannya?”

Alamak. Aku lupa tanya nomer kos-kosannya. Aku coba buka lagi Mr. OLX yang menjadi panduanku mencari calon tem(an)pat hidup. Foto kosannya sih bagus, tapi kok rada beda ya sama kenyataannya. Aduh apa jangan-jangan alamat palsu. Tiba-tiba aku Panic at the disco. Di kepalaku muncul bayangan mamaku yang ngedumel “Makanya.. gausah jauh-jauh ke Bali segala. Udah kerja di sini aja makanya”.
Keep cool far. Oke akhirnya kucoba telepon kontak yang tertera di alamat situsnya.

“Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif..”
Ok. Game over. No more cool far. Malu bertanya sesat di perantauan.

Aku  : “Mas Didit, Nomer kosannya ga ditulis disini. Saya telpon juga ga aktif.”

Mas Didit : “Hmm, Kalau nomer kosan sih ya jelas ga ada mbak. Disini mana ada alamat rumah pake nomor. Apalagi rumah-rumah di gang begini. Kecuali kalau di dalam perumahan elit, atau ruko-ruko. Coba tanya aja sama orang sekitar aja mbak, bener ga nama kosannya sesuai sama yang ini”

Alamak. Bali super sekali ternyata. Selain kain yang ditutup ke kepala Simsalabim bisa melindungi kepala anda dari kecelakaan lalu lintas, disini Penomeran alamat rumah RANDOM. Alias nomernya acak. Setelah aku coba selidiki ke rumah samping kosan terduga, samping kirinya nomernya 6x, dan samping kanannya 11x. Pokonya bener-bener ngacak. 2 pertanyaan random spontan muncul di kepalaku. 1. Bagaimana cara orang-orang Bali memberikan penomeran itu? Apakah pemberian nomer rumah mereka berdasarkan dengan angka favorit mereka, Tanggal anniversary penghuninya. Jumlah penghuni rumahnya atau jumlah mantan pacar penghuninya. Haha. Lalu apa maksud x dibelakang angkanya? Kenapa semua X?. Pertanyaan kedua yang mucul adalah, Bagaimana cara seorang Kurir Paket mengantar Paket sampe ke alamat tujuan?
Ya. Tapi intinya itu bukan saat yang tepat mencari tahu jawabannya. Jadi langkah terbaik yang kulakukan saat itu adalah mengikuti ide cerdas Mas Didit si ojek online yang 5 menit lalu merangkap Tourguide,  dan sekarang merangkap sebagai Problem Solver.



Here’s the thing. Jadi buat kamu yang bakal ke Bali, Kalau ada keluarga atau OLSHOP yang mau kirim paket akan sedikit susah kalo kamu kasih alamat kosanmu, Apalagi kalo kosanmu termasuk kosan kecil yang kurang diketahui penduduk sekitar. Better kamu kasih alamat kantor atau JNE terdekat tempat tinggal kamu. Ya. Seperti yang dibilang Mas Didit, Ga semuanya sih seperti itu, kalau ruko-ruko atau Cluster elit biasanya ada, karena memang sudah direncanakan sama developernya.


Alhamdulillahnya, sebelum sempat bertanya ke orang sekitar, Seorang cowo keluar dari Kosan terduga itu. Tanpa ba-bi-bu, langsung aku hampiri dan bertanya apa betul ini Kosan Ceria. Dan Alhamdulillah ternyata betul. Nama cowo itu Bli Ketut yang ternyata penjaga Kosan Ceria.
Setelah drama berlalu, aku pun masuk ke Kosan 3 lantai yang bentuknya minimalis, dan ambiencenya urban life banget alias sepi (menurutku). Cuma suara pancuran air kolam yang saat itu terdengar.. Bli Ketut berjalan persis di depan mengarahkanku ke sebuah kamar yang lokasinya paling TOP (literally TOP). Alias paling naik-naik ke puncak gunung. Udah paling atas, di ujung pula. Ternyata itu satu-satunya kamar yang masih kosong. Kamarnya tipe studio. Bersih, Sirkulasi udara oke, Lantai granit warm tone 40x40 standar bangunan kekinian, lengkap berisi Kasur, AC, kulkas, TV, Lemari Meja dan Kursi.

Aku  : “Ini berapa bli kalau perbulan ?”

Bli Ketut : “1,5 juta bersih mbak, belum termasuk listrik, Uang Kipem dan Uang kebersihan”

Aku  : “Uang Kipem apa ya Bli?”

Bli Ketut : “Oh, mbaknya baru ya di Bali. Jadi kalau mbak perantau, tinggal disini mesti punya Kipem mbak untuk dilaporkan ke banjar adat setempat. Kalau di banjar sini per 3 bulan harganya 100ribu. Nanti mbak cukup bayarkan ke saya aja, saya yang serahkan ke pecalangnya”

At that time, aku ga berfikir aku butuh kamar yang se-fancy itu untuk ditinggali hanya kurang lebih 12 jam saja perharinya. Kalau dipikir-pikir total biayanya bisa 1,8 juta++ termasuk biaya listrik AC dan Kulkas.

Kos-kosan di Bali, ini cukup berbeda sama kosan yang ada di tempatku dulu di Kutek Depok atau kosan umum di Jakarta. Di Bali, Tipe kosan hampir semua tipenya Studio. Apa itu Studio? Jadi maksudnya dalam kamar kosan itu ada ruang kecil untuk dapur dan kamar mandi. Tapi disini Studionya terbagi 2. Kalau ga Studio yang (full furnished) lengkap ya adanya yang (no furnish) kosongan. Jadi, range harganya juga jauh. Kalau ga 600-1000idr, ya 1500-above 2000idr. Tergantung ke-strategisan lokasi dan apa saja yang ditawari kosan itu. It was a Dilema for me. Kalau tinggal di yang kosongan, aku wajib beli isinya sendiri dari awal, tapi kalo yang full furnished terlalu sayang dan rugi dengan harga yang segitu. Ditambah lingkungan yang kaya kuburan gitu alias sepi. Not so me.

Mengenai KIPEM. Let me make it clear. 2 tahun lalu memang masih ada sistem KIPEM ini . Kartu identitas bagi perantau diluar penduduk asli Banjar setempat. Oke, Masih ga tau ya Banjar adat itu apa? Here’s another imperative point you should know if you are preparing to live in Bali. Di Bali, ga ada yang namanya sistem RT RW. Disini adanya Banjar adat

Untuk masalah KIPEM, kamu gak perlu khawatir wahai sobatku, karena merujuk keputusan Gubernur Bali pertahun 2017 KIPEM dilarang karena dianggap pemungutan liar (pungli).


Gak butuh waktu lama, aku pun pamit pulang ke Bli Ketut dan bilang akan mengabari mengenai kos-kosannya paling lambat nanti malam. Aku ajak Mas Didit untuk balik ke rumah kenalan ibuku. Di perjalanan pulang mataku ga lepas dari indahnya keadaan jalan Bali pagi itu. Menyusuri gang- gang kecil sampai jalan yang agak besar semuanya menawarkan pemandangan yang hampir sama.

                      (pemandangan di suatu senin

“It offers me not just a view. Also a Story.. A Story about morning routine of a mother wearing traditional skirt, putting down the colorful flowers called canang infront of her house, followed by her fluffy doggies around. The dogs calmly waiting the mam doing “sembahyang” infront of the Authentical shape of Pura. The smog of the Dupa faded away to the sky along with her ritual hand motions. That daily scene captured beautifully in my mind and triggers a happy feeling everytime I recall it”

Disitulah aku menyadari definisi bahagia yang sederhana. Bunga Jepun, Langit Bali dan Atap-atap rumah dengan bentuk ciamik yang ga pernah kulihat di jalanan manapun selain di Pulau ini.. Iya, bahagia itu kadang ditemukan dari hal yang sederhana yang kita lakukan sehari-hari. Tapi faktanya, (seperti kata Geneen Roth) para manusia kurang punya hubungan kuat dengan realita. Alhasil kebahagiaan yang sederhana itu seringnya terabaikan. Kita para manusia lebih suka menikmati kebahagiaan semu dalam ruang bernama “angan”.


Aku dan Mas Didit pun sampai di titik awal perjumpaan kami 40 menit lalu. Akhirnya petualangan dengan Mas Didit yang multitalenta itu berakhir.

Aku : “Oke. Mas Didit makasih banyak ya”

Mas Didit : “Sama-sama Mbak Farah. Jangan lupa bintang 5 nya ya”

Aku : "Siaapp”


5 stars submitted!
Di kolom aplikasi ojek online "beri komentar untuk driver"

aku menulis;

"Farah itu nama cewek ya. bukan cowok." 

--The End--


Comments

Latest Posts