those kids..
Aku suka anak anak. Mereka selalu membuka ingatan akan masa kecilku yang liar.
Aku suka mereka, makhluk makhluk polos yang selalu memberiku senyuman tanpa pamrih. tanpa pernah memberikan apa yang mereka pinta. aku hanya menjadi diriku, dan mereka pun bebas bersikap selayaknya anak seusia mereka. Tidak ada hal lain yang aku berikan kepada mereka selain ejekan, sapaan dan senyuman. Yah terkadang sih cemilan cemilan kecil yang harganya hanya 1000 an yang mereka tak pernah harapkan sama sekali aku membelikannya. Hanya itu. Yah hanya hal hal kecil seperti itu saja yang pernah aku berikan kepada mereka.
Di suatu malam, selepas hari berat di dunia kampus menerjangku, langkah kaki yang terasa berat ku ayunkan menuju kembali ke tempat ku bermalam. Feedback jelek dari dosen terhadap hasil karya yang kubuat semampuku mencoba berteriak dan bersahut sahutan silih berganti di fikiran. Tepat di depan sebuah warung makan itulah, mereka tiba tiba datang menerjang. Ada 1 makhluk kecil yang memelukku dari belakang yang membuat langkahku semakin berat. Dan 1 nya lagi bersemangat mendorong dorong tubuhku dengan tangan mungilnya yg lemah. Mereka berdua bersemangat meneriakkan kata "kakaak!" Sontak aku kaget. Sedetik kemudian pandanganku sdikit turun ke arah perutku yang sedang dililit tangan kecil. Satu kepala bocah pun muncul dari balik badanku. Pandangan ini langsung tertuju kepada senyum si bocah kecil. Dan selepas itu aku pun tersenyum lepas. Pikiran kusutku mengambang seketika. Pergi bersama asap kendaran motor berisik yang lalu lalang di gang tempat ku menapak.
"eh fifi.. gio, ciyeee pacaran mulu sih kalian.. ntr aku bilangin orang tua kalian loh.."
ejekku jahat sembari tersenyum puas.
"iiiiihhh!!! awas yahh!"
fifi adik manis yang memelukku tadi langsung mencubit perutku. sedangkan yang satu (gio) memukul mukul tanganku.
"ih, kita ga pacaraaann tauuuuu, eh fi kita alangin jalannya yuk biar si kakak ga bisa lewat"
ide cemerlang gio pun tiba tiba terlintas dan mencoba membisikkan maksutnya ke fifi dengan suara perlahan. Gagal sih, karena aku bisa mendengarnya dengan jelas.
"bahahaha, coba aja kalo bisa!"
timpalku sembari tersenyum licik. sepanjang jalan menuju kosan, si dua sejoli cilik ini berusaha menghadang jalanku dengan membentangkan tangan mereka. aku sih cuma senyum senyum dan terus mengejek, yaiyalah secara tangan tangan kecil itu jikalau dijadikan satu pun bisa dengan mudah ku tangkis. wkwk.
"Terima kasih Ya Allah." batinku dalam hati. Terimakasih karena di dunia ini masih ada orang yang bisa tersenyum melihat keberadaanku. Terimakasih di dunia ini setidaknya ada orang yang bisa tersenyum di hadapanku secara tulus tanpa pernah aku memberikan, atau bahkan menjanjikan sesuatu kepada mereka. Terimakasih masih ada yang mau bersamaku tanpa melihat siapa diriku,seberapa pintar diriku, seberapa hebat diriku, Apa gelarku. Dan terlebih terimakasih karena merekalah makhluk makhluk yang setidaknya menganggap keberadaan aku sangat membuat mereka senang dan dirindukan. Ingin sekali menangis rasanya. Terharu. Mereka lah makhluk makhluk kecil yang dipertemukan tuhan kepadaku selain orang tua yang menghargai apa adanya diri ini. Aku selalu mencoba mengingat apakah aku pernah mengajari mereka seperti para kakak lain yang mengaku sangat keibuan dan suka anak anak? apakah aku pernah memberikan mereka mainan mobil mobilan atau boneka yang mereka suka? Tidak. Aku tidak pernah mengajari mereka mengaji, tidak pernah mengajari mereka cara berhitung yang benar, bahkan tidak pernah mengajari mereka sopan santun.
Aku hanya sering bermain dan saling mengejek dengan mereka. Aku hanya sering bergurau dan main lompat karet bersama mereka. Aku hanya pernah mendengar cerita tentang cinta monyet mereka. Menjawab sms mereka yang sangat tidak penting " hy k Fara gy ap?" yang ku balas "gy nton film nich" Lalu aku kembali mengingat, dulu aku pernah berjanji kepada mereka akan satu hal, yang atas izin tuhan hinga kini belum dapat terlaksana. Lantas aku mencoba mengingat, apakah mereka pernah membenciku? apakah mereka pernah kesal kemudian menggibahiku dari belakang? apakah mereka pernah tidak mempercayaiku lagi? apakah mereka jadi tidak ingin bermain denganku lagi? Tidak. Bahkan setiap pagi dan sore hari, teman teman kosanku selalu merasa agak tidak nyaman karena suara segerombolan bocah yang lewat didepan kosan sambil berteriak menyebut namaku beberapa kali. Tidak. Mereka selalu berlari ke arahku dan berteriak senang ketika batang hidungku muncul secara tiba tiba.
Terimakasih Ya Allah.
Di dunia ku sekarang, dimana pertemanan, persahabatan, hubungan kekerabatan lahir dari asas kepercayaan, tanggung jawab, profesional, kredibilitas, integritas dan entah apalah namanya itu, setidaknya orang orang seperti orang tua, kekasih dan anak anak kecil ituu lah yang masih menghargaiku dan murni ingin berteman dengan diriku yang apa adanya. Bukan, sepertinya bukan itu yang ingin ku syukuri. Tetapi terimakasih ya Allah, karena di masaku yang sekarang, masih ada orang orang seperti orang tua, kekasih, sahabat dan anak anak kecil itu yang bisa ku bahagiakan dengan keberadaan diriku yang serba kurang ini.
Ohya. Satu lagi,aku sangat tidak suka dibilang ke-ibuan. Karena aku tidak pernah memperlakukan anak anak itu dengan lemah lembut bak seorang ibu yang sangat mengayomi anaknya. cih, aku masih belum bisa mengayomi mereka tau. Bahkan untuk mengayomi diriku saja masih belum becus. Aku menyayangi mereka dengan caraku sendiri. caraku yang slengeean, tukang ngeledek, ceplas ceplos dan caraku memosisikan diriku didepan mereka. Bukan sebagai orang yang lebih tua dari mereka, tetapi sebagai orang yang sebaya dengan mereka.
Di suatu malam, selepas hari berat di dunia kampus menerjangku, langkah kaki yang terasa berat ku ayunkan menuju kembali ke tempat ku bermalam. Feedback jelek dari dosen terhadap hasil karya yang kubuat semampuku mencoba berteriak dan bersahut sahutan silih berganti di fikiran. Tepat di depan sebuah warung makan itulah, mereka tiba tiba datang menerjang. Ada 1 makhluk kecil yang memelukku dari belakang yang membuat langkahku semakin berat. Dan 1 nya lagi bersemangat mendorong dorong tubuhku dengan tangan mungilnya yg lemah. Mereka berdua bersemangat meneriakkan kata "kakaak!" Sontak aku kaget. Sedetik kemudian pandanganku sdikit turun ke arah perutku yang sedang dililit tangan kecil. Satu kepala bocah pun muncul dari balik badanku. Pandangan ini langsung tertuju kepada senyum si bocah kecil. Dan selepas itu aku pun tersenyum lepas. Pikiran kusutku mengambang seketika. Pergi bersama asap kendaran motor berisik yang lalu lalang di gang tempat ku menapak.
"eh fifi.. gio, ciyeee pacaran mulu sih kalian.. ntr aku bilangin orang tua kalian loh.."
ejekku jahat sembari tersenyum puas.
"iiiiihhh!!! awas yahh!"
fifi adik manis yang memelukku tadi langsung mencubit perutku. sedangkan yang satu (gio) memukul mukul tanganku.
"ih, kita ga pacaraaann tauuuuu, eh fi kita alangin jalannya yuk biar si kakak ga bisa lewat"
ide cemerlang gio pun tiba tiba terlintas dan mencoba membisikkan maksutnya ke fifi dengan suara perlahan. Gagal sih, karena aku bisa mendengarnya dengan jelas.
"bahahaha, coba aja kalo bisa!"
timpalku sembari tersenyum licik. sepanjang jalan menuju kosan, si dua sejoli cilik ini berusaha menghadang jalanku dengan membentangkan tangan mereka. aku sih cuma senyum senyum dan terus mengejek, yaiyalah secara tangan tangan kecil itu jikalau dijadikan satu pun bisa dengan mudah ku tangkis. wkwk.
"Terima kasih Ya Allah." batinku dalam hati. Terimakasih karena di dunia ini masih ada orang yang bisa tersenyum melihat keberadaanku. Terimakasih di dunia ini setidaknya ada orang yang bisa tersenyum di hadapanku secara tulus tanpa pernah aku memberikan, atau bahkan menjanjikan sesuatu kepada mereka. Terimakasih masih ada yang mau bersamaku tanpa melihat siapa diriku,seberapa pintar diriku, seberapa hebat diriku, Apa gelarku. Dan terlebih terimakasih karena merekalah makhluk makhluk yang setidaknya menganggap keberadaan aku sangat membuat mereka senang dan dirindukan. Ingin sekali menangis rasanya. Terharu. Mereka lah makhluk makhluk kecil yang dipertemukan tuhan kepadaku selain orang tua yang menghargai apa adanya diri ini. Aku selalu mencoba mengingat apakah aku pernah mengajari mereka seperti para kakak lain yang mengaku sangat keibuan dan suka anak anak? apakah aku pernah memberikan mereka mainan mobil mobilan atau boneka yang mereka suka? Tidak. Aku tidak pernah mengajari mereka mengaji, tidak pernah mengajari mereka cara berhitung yang benar, bahkan tidak pernah mengajari mereka sopan santun.
Aku hanya sering bermain dan saling mengejek dengan mereka. Aku hanya sering bergurau dan main lompat karet bersama mereka. Aku hanya pernah mendengar cerita tentang cinta monyet mereka. Menjawab sms mereka yang sangat tidak penting " hy k Fara gy ap?" yang ku balas "gy nton film nich" Lalu aku kembali mengingat, dulu aku pernah berjanji kepada mereka akan satu hal, yang atas izin tuhan hinga kini belum dapat terlaksana. Lantas aku mencoba mengingat, apakah mereka pernah membenciku? apakah mereka pernah kesal kemudian menggibahiku dari belakang? apakah mereka pernah tidak mempercayaiku lagi? apakah mereka jadi tidak ingin bermain denganku lagi? Tidak. Bahkan setiap pagi dan sore hari, teman teman kosanku selalu merasa agak tidak nyaman karena suara segerombolan bocah yang lewat didepan kosan sambil berteriak menyebut namaku beberapa kali. Tidak. Mereka selalu berlari ke arahku dan berteriak senang ketika batang hidungku muncul secara tiba tiba.
Terimakasih Ya Allah.
Di dunia ku sekarang, dimana pertemanan, persahabatan, hubungan kekerabatan lahir dari asas kepercayaan, tanggung jawab, profesional, kredibilitas, integritas dan entah apalah namanya itu, setidaknya orang orang seperti orang tua, kekasih dan anak anak kecil ituu lah yang masih menghargaiku dan murni ingin berteman dengan diriku yang apa adanya. Bukan, sepertinya bukan itu yang ingin ku syukuri. Tetapi terimakasih ya Allah, karena di masaku yang sekarang, masih ada orang orang seperti orang tua, kekasih, sahabat dan anak anak kecil itu yang bisa ku bahagiakan dengan keberadaan diriku yang serba kurang ini.
Ohya. Satu lagi,aku sangat tidak suka dibilang ke-ibuan. Karena aku tidak pernah memperlakukan anak anak itu dengan lemah lembut bak seorang ibu yang sangat mengayomi anaknya. cih, aku masih belum bisa mengayomi mereka tau. Bahkan untuk mengayomi diriku saja masih belum becus. Aku menyayangi mereka dengan caraku sendiri. caraku yang slengeean, tukang ngeledek, ceplas ceplos dan caraku memosisikan diriku didepan mereka. Bukan sebagai orang yang lebih tua dari mereka, tetapi sebagai orang yang sebaya dengan mereka.


Comments
Post a Comment